Sistem manajemen klinik kedokteran penerbangan, medical certificate pilot dan crew (Class 1/2/3 ICAO/CASR), fitness-to-fly asesmen penumpang medis, aeromedical decision making (AMEL/SODA), kabin pressure efek pada kondisi medis, fatigue management, QRIS tanpa EDC, dan rekam medis untuk dokter spesialis kedokteran penerbangan Indonesia. Profesional tanpa developer.
Buat aplikasi klinik penerbangan gratis200+ bisnis layanan di seluruh Asia Tenggara
Dibangun untuk dokter spesialis kedokteran penerbangan Indonesia
Dari medical certificate pilot Class 1/2/3 ICAO/CASR hingga fitness-to-fly asesmen penumpang medis, aeromedical decision making (AMEL/SODA), efek kabin pressure pada kondisi medis, crew fatigue management, dan QRIS tanpa EDC.
Medical certificate pilot dan crew
Medical certificate penerbangan per kelas ICAO/CASR Indonesia: Class 1 untuk airline transport pilot license (ATPL) dan commercial pilot license (CPL) — pemeriksaan paling ketat, validitas 6 bulan usia <40 tahun atau 12 bulan usia 40+; Class 2 untuk private pilot license (PPL) — validitas 24 bulan usia <40 atau 12 bulan usia 40+; Class 3 untuk air traffic controller (ATC). Komponen pemeriksaan standar ICAO Doc 8984: visual acuity (koreksi penuh 6/6 binokular, persepsi warna Ishihara 25 plate, visual field), audiometri (pure tone average), EKG 12-lead (Class 1 wajib, resting dan exercise stress test usia >40), tekanan darah (batas Class 1: <160/95 dengan atau tanpa obat tertentu), urinalisis, laboratorium darah (CBC, glukosa puasa, kolesterol, GGT alkohol marker), dan pemeriksaan fisik lengkap. Sertifikat digital ditandatangani SpKP dan diterbitkan.
Fitness-to-fly asesmen penumpang medis
Fitness-to-fly asesmen untuk penumpang dengan kondisi medis: kardiovaskular (STEMI stabil >7-10 hari boleh terbang, PCI >3 hari, CABG >10 hari, DVT akut tidak boleh, PE tidak boleh hingga stabil), respiratori (PPOK — SpO2 >92% duduk, hypoxia altitude simulation test jika SpO2 85-92%, pneumotoraks hingga >2 minggu post-resolusi), post-operasi (laparotomi >10 hari, laparoskopi >24 jam, kraniotomi >7-10 hari, fraktur dengan gips — gas dalam kavitas bahaya ekspansi), psikiatri (tidak boleh terbang sendiri jika agitasi aktif atau risiko bunuh diri), hamil (<36 minggu umumnya boleh, >36 tidak untuk jarak jauh), dan neonatus (<48 jam tidak boleh). Output: fit/fit dengan syarat (MEDA medical declaration/WCHR/WCHS/WCHC untuk kursi roda)/tidak fit.
Aeromedical decision making (AMEL/SODA)
Beberapa kondisi medis tidak otomatis mendiskualifikasi pilot, tetapi memerlukan asesmen lebih lanjut dan waiver: hipertensi yang terkontrol dengan obat tertentu (ACE inhibitor, ARB, beta-blocker tertentu — atenolol bisa digunakan pilot Class 1, amlodipine OK, diuretik tidak ideal untuk dehidrasi ketinggian), diabetes (DM tipe 2 dengan OHO tertentu — metformin OK, GLP-1 agonist OK, SGLT2 perlu evaluasi, insulin tidak untuk single-crew), riwayat aritmia (SVT yang berhasil ablasi, AF dengan faktor risiko rendah), riwayat psikiatri (depresi yang stabil dengan SSRI tertentu), riwayat cedera kepala/epilepsi, dan riwayat kanker. SODA (Statement of Demonstrated Ability) untuk defisit fungsi permanen yang terkompensasi. Dokumentasi AMEL/SODA terhubung ke Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Indonesia.
Efek kabin pressure dan ketinggian pada kondisi medis
Kabin pesawat komersil dipertahankan pada tekanan ekivalen 6.000-8.000 kaki (1800-2400 m), bukan tekanan permukaan laut. Efek fisiologis: PaO2 turun dari 100 ke 65-70 mmHg (SpO2 dari 99% ke 92-95%). Kondisi yang berisiko: anemia berat (Hb <8 g/dL — hipoksemia lebih signifikan), PPOK berat, pneumonia aktif, baru mendapat scuba diving (risiko decompression sickness, tunggu 12-24 jam setelah dive tanpa decompression stop atau 24-48 jam setelah dive decompression), gas dalam tubuh yang ekspansi (ileus paralitik, pneumoperitoneum, pneumotoraks, bola mata post-operasi gas tamponade — tidak boleh terbang hingga gas resorb, gips sirkuler — risiko compartment syndrome). Hipoxia altitude simulation test (HAST) dengan FiO2 15% (simulasi ketinggian 8000 kaki): rekam SpO2 pada HAST, indikasi O2 suplemen inflight jika SpO2 <85%.
Crew health monitoring dan fatigue management
Untuk pilot dan crew aktif, monitoring kesehatan berkala: pemeriksaan medis tahunan (annual medical), laporan kondisi medis yang baru (kewajiban melaporkan ke AME jika ada kondisi baru), dan monitoring faktor fatigue. Fatigue Risk Management System (FRMS) support: rekam jam terbang per bulan (batas CASR 100 jam per bulan, 1000 jam per tahun), duty time dan rest period (minimum rest 8-10 jam sebelum duty), dan laporan fatigue dari pilot (Karolinska Sleepiness Scale atau kuesioner subjektif). Jet lag protokol: arah perjalanan timur (paling berat), recovery rate 1 jam per hari, suhu core body temperature dan melatonin timing. Medication dan flying: obat yang tidak boleh saat terbang (sedatif, antihistamin sedating, opioid, beberapa antihipertensi).
QRIS dan laporan klinik penerbangan
Set tarif: medical certificate Class 1 (komprehensif termasuk EKG, audiometri, lab), Class 2 (standar), Class 3 (ATC), fitness-to-fly assessment penumpang, konsultasi aeromedical decision (AMEL/SODA), dan konsultasi crew health (fatigue, kondisi baru). QRIS satu scan atau invoice perusahaan penerbangan. Laporan klinik: distribusi kelas medical certificate, jumlah kondisi yang memerlukan AMEL, jumlah penumpang fitness-to-fly per bulan. Data ini mendukung laporan ke Ditjen Perhubungan Udara dan audit Kemenhub.
Harga
Mulai gratis dan upgrade kapan pun kamu siap. Tanpa biaya setup. Tanpa biaya tersembunyi.
Publish aplikasi pertama dan mulai menjangkau pelanggan.
Lebih banyak aplikasi, domain sendiri, alat AI Marketing, dan chatbot.
Otomatisasi AI penuh, kolaborasi tim, dan opsi white-label.
Paket tahunan hemat 20% (2 bulan gratis) · Setiap paket termasuk kredit AI bernilai nyata
Start free — no credit card required.
Buat aplikasi klinik penerbangan gratis